
“Kenapa kampung ini dinamakan begitu, Mbah?”
Pertanyaan seorang bocah mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi seorang lelaki tua yang telah puluhan tahun tinggal di desa, pertanyaan itu bisa membuka pintu menuju masa lalu yang panjang.
Ia mungkin kemudian bercerita tentang sebuah pohon besar yang dahulu menjadi penanda kampung. Tentang sungai yang kini airnya tak lagi sejernih dulu. Tentang jalan yang dahulu hanya berupa pematang sawah. Atau tentang seseorang yang pernah membuka lahan dan menjadi cikal bakal permukiman.
Cerita itu mungkin tidak pernah tertulis dalam buku sejarah. Tidak ada di perpustakaan sekolah. Bahkan mungkin tidak tercantum dalam dokumen resmi desa. Namun, cerita itu adalah pengetahuan. Selama masih ada yang mengingat dan ada yang mau mendengarkan, pengetahuan tersebut tetap hidup.
Masalahnya, ingatan manusia memiliki batas. Orang-orang tua akan pergi. Generasi muda akan tumbuh dengan pengalaman yang berbeda. Apa yang hari ini terasa begitu akrab suatu ketika bisa menjadi sesuatu yang sama sekali asing. Di sinilah buku, perpustakaan, dan gerakan literasi menemukan arti yang lebih dalam.
Dalam artikel Gerakan Literasi Desa, yang dimuat Kompas 17 Mei 2024, Adin Bondar, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional, menempatkan penguatan perpustakaan desa sebagai bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang berpengetahuan, kreatif, inovatif, dan produktif.
Gagasan tersebut layak direnungkan karena selama ini literasi sering dipahami secara sederhana dengan sekadar membaca buku. Padahal, literasi jauh lebih luas. Literasi adalah kemampuan memahami informasi, menilai kebenarannya, menghubungkannya dengan kehidupan, kemudian menggunakannya untuk mengambil keputusan. Dalam kehidupan desa, kemampuan semacam ini memiliki arti yang sangat nyata.
Petani membutuhkan informasi tentang cuaca, benih, pupuk, teknologi, harga, dan pasar. Pelaku usaha kecil membutuhkan pengetahuan tentang produksi, kemasan, pemasaran, serta pengelolaan keuangan. Orang tua membutuhkan pengetahuan untuk mendampingi anak. Remaja membutuhkan kemampuan memilah informasi di tengah derasnya arus media sosial. Tetapi desa juga membutuhkan kemampuan untuk membaca dirinya sendiri.
Setiap desa memiliki sejarah. Ada tradisi, bahasa, kesenian, makanan, pengetahuan tentang alam, kisah tokoh, dan pengalaman masyarakat menghadapi berbagai perubahan. Sebagian besar pengetahuan tersebut tidak lahir dari ruang kelas. Ia tumbuh dari pengalaman hidup yang panjang.
Karena itu, perpustakaan desa seharusnya tidak hanya menjadi tempat membawa buku dari luar ke dalam desa. Ia juga dapat menjadi tempat menyimpan pengetahuan yang berasal dari desa itu sendiri. Bayangkan jika anak-anak diajak menulis sejarah kampung berdasarkan wawancara dengan para sesepuh. Mereka merekam cerita tentang asal-usul dusun, memotret bangunan lama, mencatat resep makanan tradisional, mendokumentasikan permainan anak-anak zaman dahulu, atau menuliskan pengalaman para petani.
Sederhana memang. Tetapi beberapa puluh tahun kemudian, catatan itu mungkin menjadi sangat berharga. Pada titik tersebut, perpustakaan bukan lagi sekadar ruangan yang dipenuhi rak buku. Ia menjadi rumah ingatan.
Namun, pekerjaan membangun perpustakaan tentu tidak berhenti pada membangun gedung dan mengisi rak. Tantangan yang lebih besar justru dimulai setelahnya, yakni membuat perpustakaan digunakan.
Sebuah perpustakaan dapat memiliki ribuan buku, tetapi tetap sepi. Sebaliknya, sebuah ruang kecil dengan koleksi terbatas dapat menjadi tempat yang hidup apabila masyarakat merasa membutuhkannya. Karena itu, ukuran keberhasilan perpustakaan desa mungkin tidak cukup hanya dihitung dari jumlah koleksi atau jumlah pengunjung. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah warga membaca.
Apakah seorang anak menjadi lebih ingin tahu? Apakah seorang pemuda memperoleh keterampilan baru? Apakah seorang petani menemukan informasi yang membantu pekerjaannya? Apakah seorang ibu mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi keluarganya? Di sanalah literasi menemukan bentuknya.
Perpustakaan bahkan tidak harus selalu sunyi. Ia bisa menjadi tempat anak-anak membaca cerita, warga berdiskusi, kelompok usaha belajar memasarkan produk, petani bertukar pengalaman, atau para sesepuh berbicara kepada generasi muda tentang sejarah kampung. Dengan demikian, perpustakaan bukan hanya tempat orang membaca buku. Ia menjadi tempat orang berbagi pengetahuan.
Hal ini penting karena desa tidak seharusnya hanya menjadi penerima pengetahuan. Desa juga merupakan sumber pengetahuan. Pengetahuan seorang petani tentang tanah dan musim, misalnya, memiliki nilai yang tidak selalu ditemukan dalam buku. Begitu pula pengetahuan seorang perajin tentang bahan lokal, seorang nelayan tentang perubahan cuaca, atau seorang sesepuh tentang sejarah kampung.
Pengetahuan lokal dan pengetahuan modern tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling melengkapi. Di sinilah gerakan literasi desa menjadi menarik. Ia bukan sekadar kampanye agar masyarakat gemar membaca, tetapi sebuah usaha untuk membangun masyarakat yang terus belajar.
Tentu saja, kita tidak boleh berharap terlalu banyak kepada perpustakaan. Ia bukan obat untuk semua persoalan desa. Kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kesempatan kerja, dan berbagai persoalan lainnya membutuhkan kebijakan dan kerja bersama yang jauh lebih luas. Namun, pengetahuan dapat membantu masyarakat menghadapi persoalan-persoalan tersebut dengan lebih baik. Itulah sebabnya investasi pada literasi sering kali hasilnya tidak langsung terlihat.
Membangun jalan menghasilkan jalan yang dapat dilihat. Membangun gedung menghasilkan bangunan yang dapat difoto. Tetapi membangun manusia menghasilkan sesuatu yang jauh lebih sulit diukur, karena ia berwujud cara berpikir yang berubah.
Mungkin perubahan itu bermula dari seorang anak yang membaca buku. Atau dari seorang bocah yang bertanya kepada kakeknya, “Kenapa kampung ini dinamakan begitu?” Lalu sang kakek mulai bercerita. Cerita itu kemudian ditulis. Buku kecil itu masuk ke perpustakaan desa. Beberapa tahun kemudian, seorang anak lain membacanya dan bertanya lebih jauh. Begitulah pengetahuan bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Gerakan literasi desa bukan hanya tentang membuat masyarakat lebih banyak membaca. Ia juga tentang memastikan agar pengetahuan tidak putus di tengah jalan. Sebab sebuah desa tidak hanya terdiri atas rumah, sawah, jalan, dan batas wilayah. Desa juga dibentuk oleh ingatan orang-orang yang pernah hidup di dalamnya. Dan ketika ingatan itu ditulis, dibaca, dibicarakan, lalu diwariskan, sebuah desa tidak sekadar memiliki masa lalu. Ia memiliki alasan untuk memahami masa depannya.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Sekretaris Kecamatan Bringin.
