
Di ruang praktik seorang dokter, penyembuhan biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan sederhana, “Apa yang Anda rasakan?” Dari jawaban pasien, dokter menyusun diagnosis, memilih pemeriksaan penunjang, lalu menentukan terapi. Sebelum obat diminum atau pisau bedah bekerja, sesungguhnya telah terjadi proses yang sangat mendasar, yakni terjadinya percakapan.
Karena itulah, tulisan Akhmad Idris di Tempo edisi 2 Agustus 2026 berjudul Bahasa Sebagai Pengobatan Alternatif menawarkan sudut pandang yang menarik. Ia tidak menolak kedokteran modern ataupun mengajak masyarakat meninggalkan rumah sakit. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa penyembuhan manusia tidak hanya berlangsung melalui obat-obatan, tetapi juga melalui bahasa. Bahasa, menurutnya, bukan pengganti pengobatan medis, melainkan mitra yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Gagasan ini layak direnungkan, terutama ketika Indonesia menghadapi persoalan kesehatan yang semakin kompleks. Kita memang semakin mampu mengobati penyakit fisik dengan teknologi yang canggih. Namun pada saat yang sama, gangguan kesehatan mental, depresi, kecemasan, kesepian, hingga bunuh diri pada masyarakat justru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan. Luka yang mereka alami sering kali bukan luka pada tubuh, melainkan luka pada batin.
Kita sering menganggap kata hanyalah bunyi atau rangkaian huruf. Padahal sejarah manusia menunjukkan bahwa kata mampu menggerakkan perang, melahirkan perdamaian, menjatuhkan pemerintahan, bahkan menyelamatkan nyawa. Sebaliknya, kata juga dapat menjadi racun.
Berapa banyak anak yang kehilangan rasa percaya diri karena bertahun-tahun mendengar dirinya disebut bodoh? Berapa banyak remaja yang tenggelam dalam depresi setelah menjadi sasaran perundungan digital? Berapa banyak pasangan yang gagal mempertahankan rumah tangga bukan karena persoalan ekonomi, melainkan karena tidak lagi mampu berbicara dengan saling menghormati?
Luka akibat benda tajam mungkin dapat dijahit dalam hitungan minggu. Namun luka akibat penghinaan dapat bertahan bertahun-tahun, bahkan seumur hidup. Tidak mengherankan apabila berbagai penelitian psikologi modern menunjukkan bahwa pengalaman verbal sejak masa kanak-kanak ikut membentuk struktur kepribadian seseorang. Pujian yang tulus dapat menumbuhkan keberanian, sedangkan caci maki yang terus-menerus dapat melahirkan rasa rendah diri kronis.
Tulisan Akhmad Idris mengutip Suzanne O’Sullivan yang menegaskan bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh narasi yang disampaikan, dipikirkan, dan diterima. Pernyataan ini terasa sederhana, tetapi memiliki implikasi besar.
Seorang dokter yang berkata, “Penyakit Anda memang serius, tetapi peluang sembuh tetap ada,” memberikan efek psikologis yang berbeda dibandingkan dokter yang mengatakan, “Kondisinya sudah terlambat.”
Keduanya menyampaikan fakta yang sama. Namun pilihan kata menghasilkan harapan yang berbeda. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari.
Guru yang berkata, “Kamu belum berhasil,” memberi ruang bagi murid untuk berkembang. Sebaliknya, guru yang berkata, “Kamu memang tidak berbakat,” sedang menutup pintu masa depan muridnya.
Belum pernah dalam sejarah manusia bahasa beredar sedemikian cepat seperti sekarang di era media sosial. Dalam hitungan detik, satu kalimat dapat dibaca jutaan orang. Sayangnya, kecepatan itu tidak selalu diiringi kedewasaan.
Media sosial sering berubah menjadi ruang kemarahan. Hujatan lebih mudah viral daripada empati. Sindiran lebih cepat menyebar daripada apresiasi. Algoritma bahkan cenderung mengangkat konten yang memancing emosi karena lebih banyak menghasilkan interaksi. Akibatnya, masyarakat hidup dalam banjir kata-kata yang melelahkan.
Orang bangun tidur membaca pertengkaran politik. Siang hari menyaksikan saling hina antarpengguna media sosial. Malam hari kembali disuguhi komentar penuh kebencian. Jika tubuh memerlukan makanan bergizi, pikiran pun membutuhkan nutrisi yang sehat. Bahasa yang kasar, manipulatif, dan penuh kebencian lambat laun menjadi toksin psikologis yang memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Namun demikian, gagasan bahwa bahasa dapat menjadi “pengobatan alternatif” perlu dipahami secara proporsional. Sebagaimana ditegaskan Akhmad Idris, bahasa tidak dimaksudkan menggantikan pengobatan medis. Pasien diabetes tetap memerlukan pengendalian gula darah. Penderita kanker tetap membutuhkan terapi sesuai indikasi medis. Penderita serangan jantung tetap memerlukan tindakan cepat.
Tidak bijaksana menjadikan konsep “bahasa yang menyembuhkan” sebagai alasan menolak ilmu kedokteran atau mengabaikan terapi yang telah terbukti secara ilmiah. Yang hendak ditegaskan justru sebaliknya. Manusia bukan hanya tubuh biologis, melainkan juga makhluk sosial, psikologis, dan spiritual. Karena itu, penyembuhan yang utuh membutuhkan pendekatan yang juga utuh.
Obat dapat menyembuhkan organ tubuh, tetapi dukungan keluarga mempercepat pemulihan. Operasi dapat mengangkat tumor, tetapi harapan sering kali membantu pasien bertahan menjalani terapi yang panjang. Seorang psikolog mungkin tidak menghilangkan penyakit fisik, tetapi dapat mengurangi kecemasan yang memperburuk kondisi pasien. Dalam keseluruhan proses itu, bahasa menjadi jembatan.
Program kesehatan tidak cukup hanya membangun rumah sakit atau menyediakan obat-obatan. Ia juga perlu membangun budaya komunikasi yang sehat. Sekolah dapat mengajarkan literasi emosional. Orang tua dapat membiasakan dialog yang penuh penghargaan. Media dapat lebih bertanggung jawab dalam memilih diksi. Pemerintah pun dapat menggunakan bahasa yang jujur sekaligus menenangkan ketika menghadapi krisis.
Mungkin kita tidak pernah menyadari bahwa satu kalimat yang kita ucapkan hari ini dapat menjadi awal kesembuhan seseorang. Sebaliknya, satu kalimat yang diucapkan tanpa empati dapat meninggalkan luka yang jauh lebih sulit disembuhkan daripada penyakit fisik.
Karena itu, sebagaimana diingatkan Akhmad Idris, bahasa memang bukan pengganti obat. Namun, di tengah dunia yang semakin bising oleh kemarahan dan kebencian, bahasa yang benar, baik, dan penuh empati menjadi terapi yang tidak boleh diremehkan. Dalam banyak keadaan, sebelum resep ditulis dan sebelum obat diminum, manusia sesungguhnya lebih dahulu membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan dan berbicara dengan hati.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Sekretaris Kecamatan Bringin.
