
Ketika musim hujan datang, air terasa sebagai sesuatu yang biasa. Keran dibuka, sumur ditimba, kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Namun ketika kemarau memanjang, air berubah menjadi sesuatu yang harus dicari. Bagi sebagian warga, mendapatkan air bersih bukan lagi perkara kenyamanan, melainkan kebutuhan dasar yang harus diperjuangkan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penyaluran air bersih di Dusun Gagan dan Dusun Bareng, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Kegiatan diselenggarakan Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Ngawi bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, dalam rangka memperingati HUT KORPRI ke-55 sekaligus membantu masyarakat yang mengalami keterbatasan ketersediaan air bersih.

Pelaksanaan penyaluran didampingi segenap pegawai Kecamatan Bringin serta Kepala Desa Kenongorejo beserta perangkat desa. Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Ngawi, Drs. Mokh. Sodiq Triwidyanto, M.Si. dan Kepala Pelaksana BPBD, Prila Yuda Putra, S.H., M.Si., sehingga kegiatan tidak hanya menjadi agenda bantuan, tetapi juga bentuk kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang menghadapi persoalan air bersih.
Kekeringan bukan sekadar tanah yang mengering atau tanaman yang layu. Dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya bisa berupa sumur yang debitnya menurun, sumber air yang mengering, hingga bertambahnya waktu dan tenaga yang diperlukan untuk memperoleh air bagi kebutuhan rumah tangga.
Fenomena tersebut juga perlu dilihat dalam konteks iklim. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Timur cenderung lebih kering dari kondisi normal. Sekitar 75,5 persen zona musim di Jawa Timur diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, sementara puncak kemarau secara umum diperkirakan terjadi pada Agustus. Untuk wilayah Ngawi, BMKG juga memasukkan sejumlah wilayah dalam zona yang diprediksi mengalami kondisi kemarau bawah normal.
Bahkan memasuki Oktober, prediksi BMKG Jawa Timur masih menunjukkan sifat hujan bawah normal, sehingga persoalan ketersediaan air di sejumlah wilayah perlu tetap diantisipasi.
Karena itu, penyaluran air bersih menjadi langkah nyata untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau. Bantuan semacam ini memang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kekeringan secara permanen. Namun, bagi warga yang membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari, kehadiran bantuan pada saat yang tepat memiliki arti yang sangat besar.
Di sisi lain, musim kemarau juga mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara bijak. Penghematan air, menjaga sumber mata air, merawat lingkungan, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan merupakan pekerjaan bersama yang tidak selesai hanya dengan datangnya musim hujan.
Bagi Kecamatan Bringin, pendampingan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan koordinasi antara pemerintah kabupaten, BPBD, KORPRI, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat berjalan baik.
Sebab ketika kemarau membuat air menjadi langka, yang dibutuhkan bukan hanya air yang mengalir, tetapi juga kepedulian yang hadir tepat waktu.
