
Artikel berjudul JOMO, Absen ‘Posting’ Itu Seru! di Kompas yang ditulis oleh Neli Triana terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Siapa yang tidak pernah sibuk mengambil foto sebelum makan, mengatur pencahayaan saat rapat, atau berpikir keras menyusun caption agar terlihat menarik? Aktivitas yang kelihatannya santai itu ternyata menyimpan kelelahan yang tidak sedikit.
Neli menggambarkan bagaimana satu unggahan di media sosial sering kali membutuhkan usaha panjang. Kita memilih foto terbaik, mengedit, menimbang kata-kata, lalu menunggu respons. Ketika banyak yang menyukai atau berkomentar, hati terasa senang. Tetapi ketika sepi, muncul rasa ragu. Apakah kurang menarik? Apakah saya tidak cukup keren?
Di sinilah letak menariknya. Media sosial bukan hanya tempat berbagi, tetapi juga ruang untuk mengatur diri. Kita ingin terlihat bahagia, produktif, sukses, atau setidaknya tidak tertinggal. Tanpa sadar, kita sedang bekerja (bukan kerja kantor), tetapi kerja emosional.
Istilah kerja emosional pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Amerika, Arlie Russell Hochschild. Awalnya, istilah ini dipakai untuk menggambarkan pekerja pelayanan yang harus tersenyum meski sedang lelah. Di era media sosial, kerja seperti ini meluas ke semua orang. Kita merasa perlu menampilkan ekspresi tertentu agar sesuai dengan harapan para audien.
Bedanya, dulu kerja emosional hanya terjadi saat jam kerja. Sekarang, ia bisa terjadi kapan saja. Bahkan saat makan bersama keluarga, kita masih sempat memikirkan unggahan. Fokus terbagi. Momen nyata terasa kurang utuh karena sebagian perhatian tertuju pada layar.
Tulisan Neli juga mengingatkan bahwa kita sebenarnya sedang menjadi pekerja digital tanpa disadari. Pemikir media Christian Fuchs menjelaskan bahwa setiap foto, komentar, dan interaksi kita menjadi sumber keuntungan bagi platform. Semakin aktif kita, semakin besar nilai ekonomi yang dihasilkan.
Artinya, media sosial bukan sekadar ruang pertemanan. Ia juga ruang bisnis besar yang bergantung pada perhatian dan data pengguna. Kita mungkin merasa hanya berbagi cerita, tetapi platform melihatnya sebagai data dan peluang iklan.
Di tengah situasi ini, muncul konsep JOMO atau joy of missing out. Istilah ini dipopulerkan antara lain oleh Christina Crook dan Anil Dash. Intinya sederhana. Tidak apa-apa melewatkan sesuatu. Tidak semua acara harus dihadiri. Tidak semua momen harus di-posting.
JOMO mengajak kita mengambil kembali kendali. Kita memilih kapan ingin terhubung dan kapan ingin berhenti. Bukan algoritma yang menentukan suasana hati kita, melainkan diri sendiri.
Namun, penting juga melihat sisi lain. Tidak semua orang bisa dengan mudah absen posting. Bagi pelaku usaha kecil, pekerja kreatif, atau profesional muda, media sosial sering menjadi alat penting untuk membangun jaringan dan mencari peluang. Dalam kondisi seperti itu, aktif di media sosial terasa seperti kebutuhan, bukan pilihan.
Karena itu, JOMO mungkin lebih tepat dipahami sebagai upaya menjaga keseimbangan. Bukan berarti menolak media sosial sepenuhnya, tetapi belajar membatasi diri. Misalnya, tidak terus-menerus mengecek notifikasi, tidak merasa wajib mengunggah setiap momen, atau memilih berbagi hanya dengan lingkaran terbatas.
Tulisan Neli mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya. Apakah kita menikmati hidup, atau justru sibuk menampilkannya? Apakah kita benar-benar hadir di meja makan, atau hanya hadir di layar?
Di kota besar dengan ritme cepat dan persaingan tinggi, media sosial sering menjadi ajang pembuktian diri. Namun pengakuan digital tidak selalu sebanding dengan ketenangan batin. Likes memang menyenangkan, tetapi nilainya tidak selalu mencerminkan nilai diri kita yang sebenarnya.
Pada akhirnya, JOMO bukan soal menjadi antisosial. Ia tentang keberanian memilih. Memilih untuk tidak selalu tampil. Memilih untuk menikmati momen tanpa kamera. Memilih untuk tidak menyerahkan seluruh emosi kepada notifikasi.
Mungkin memang ada kebahagiaan kecil ketika kita berani absen. Di saat orang lain sibuk memotret matahari terbenam, kita bisa benar-benar melihatnya. Dan dalam kesunyian tanpa unggahan, kita menemukan kembali hal sederhana, bahwa hidup tidak selalu perlu dibagikan untuk terasa berarti.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Sekretaris Kecamatan Bringin.
