
Ada pemandangan yang belakangan membuat saya sering berdiri lebih lama di rak toko buku. Bukan karena bingung memilih bacaan, melainkan karena melihat label harga yang semakin membuat buku terasa seperti barang mewah.
Dulu, dengan uang seratus ribu rupiah, saya bisa membawa pulang dua atau tiga buku. Sekarang, uang yang sama kadang hanya cukup untuk satu buku tipis. Saya berdiri di depan rak, membolak-balik halaman, membaca sinopsis, lalu diam-diam menghitung isi dompet. Pada titik tertentu, kegiatan membeli buku berubah menjadi latihan matematika.
Fenomena ini sebenarnya tidak mengejutkan. Harga kertas naik. Biaya percetakan naik. Ongkos distribusi naik. Semua komponen dalam rantai industri penerbitan ikut terdorong ke atas. Yang tidak ikut naik adalah daya beli sebagian besar masyarakat. Akibatnya, buku perlahan bergeser dari kebutuhan intelektual menjadi barang yang harus dipertimbangkan berkali-kali sebelum dibeli.
Ironisnya, di tengah harga buku yang semakin tinggi, kesejahteraan penulis justru tidak ikut terdongkrak. Banyak orang membayangkan profesi penulis sebagai pekerjaan romantis: duduk di kafe, mengetik naskah, lalu menerima royalti yang mengalir setiap bulan. Gambaran itu mungkin berlaku bagi segelintir nama besar. Namun bagi sebagian besar penulis Indonesia, kenyataannya tidak seperti itu, bahkan kadang menyedihkan.
Royalti buku rata-rata hanya berkisar antara 8 hingga 15 persen dari harga jual. Jika sebuah buku dijual seharga Rp100.000, penulis mungkin hanya memperoleh Rp8.000 hingga Rp15.000 per eksemplar. Untuk memperoleh pendapatan yang layak, sebuah buku harus terjual ribuan bahkan puluhan ribu eksemplar—sesuatu yang tidak mudah di pasar literasi Indonesia.
Karena itulah banyak penulis terpaksa memiliki pekerjaan lain. Mereka menjadi guru, dosen, editor, pegawai negeri, penerjemah, atau pekerja lepas. Menulis bukan sumber penghidupan utama, melainkan pekerjaan yang dilakukan karena kecintaan terhadap gagasan.
Dan, masalahnya tidak berhenti di situ. Nasib penulis sesungguhnya sangat bergantung pada jumlah pembaca. Di sinilah kita berhadapan dengan persoalan lama yang tak kunjung selesai, yakni rendahnya budaya membaca.
Setiap kali muncul data literasi internasional, Indonesia hampir selalu berada di posisi yang membuat kita menghela napas panjang. Yang lebih mengkhawatirkan bukan sekadar angka statistiknya, melainkan perubahan perilaku sehari-hari.
Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia tanpa batas, tetapi perhatian manusia justru semakin pendek. Kita membaca judul tanpa isi. Menonton potongan video tanpa konteks. Membaca komentar tanpa memeriksa sumber. Bahkan tidak jarang seseorang merasa cukup memahami suatu persoalan hanya karena melihat cuplikan tiga puluh detik di media sosial. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis ikut tergerus.
Otak manusia pada dasarnya bekerja seperti otot. Semakin sering digunakan untuk menganalisis, membandingkan, dan memahami sesuatu yang kompleks, semakin kuat kemampuannya. Sebaliknya, jika terus-menerus disuguhi informasi instan tanpa proses berpikir mendalam, kemampuan itu perlahan melemah.
Belakangan sejumlah penelitian internasional memang menunjukkan fenomena yang disebut Reverse Flynn Effect, yaitu kecenderungan penurunan skor IQ rata-rata di beberapa negara setelah puluhan tahun sebelumnya terus meningkat. Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan pola pendidikan, lingkungan informasi, hingga kebiasaan membaca yang berubah.
Tentu saja kita tidak bisa menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia tiba-tiba menjadi kurang cerdas. Namun ada gejala yang patut dicemaskan, yaitu semakin banyak orang yang memiliki akses informasi, tetapi semakin sedikit yang mau meluangkan waktu untuk memahami informasi tersebut secara mendalam. Kita menjadi masyarakat yang cepat bereaksi, tetapi lambat merenung.
Di sinilah harga buku sebenarnya memiliki makna simbolik. Ketika buku semakin sulit dijangkau, akses terhadap pengetahuan ikut menyempit. Ketika penulis tidak memperoleh penghargaan yang layak, produksi gagasan ikut terhambat. Ketika masyarakat semakin jarang membaca, kemampuan berpikir kritis pun menurun. Ketiganya membentuk lingkaran yang saling memperkuat.
Buku mahal membuat pembaca berkurang. Pembaca yang berkurang membuat pasar buku mengecil. Pasar yang mengecil membuat penerbit mencetak lebih sedikit. Biaya produksi per buku menjadi lebih tinggi. Harga buku kembali naik. Siklus itu terus berputar.
Meski demikian, tidak semua membawa kabar buruk. Di berbagai kota, komunitas baca terus tumbuh. Perpustakaan-perpustakaan kecil dibangun secara swadaya. Klub diskusi bermunculan. Guru-guru masih mengajak murid membaca sebelum pelajaran dimulai. Penulis tetap menulis meskipun tahu hasilnya tidak selalu menjanjikan. Harapan ternyata tidak pernah benar-benar hilang.
Namun harapan saja tidak cukup. Literasi membutuhkan keberpihakan. Negara perlu memperkuat perpustakaan publik, memperluas akses buku murah, dan menciptakan kebijakan yang mendukung industri penerbitan. Dunia pendidikan harus mengembalikan membaca sebagai kebiasaan, bukan sekadar kewajiban. Sementara masyarakat perlu mulai bertanya pada diri sendiri, mengapa kita begitu mudah menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk kuota internet, kopi kekinian, atau langganan hiburan digital, tetapi begitu berat membeli satu buku yang mungkin bisa mengubah cara berpikir kita?
Sebenarnya, persoalan literasi bukan semata soal buku. Ia adalah soal masa depan. Bangsa yang kehilangan kebiasaan membaca lambat laun akan kehilangan kemampuan berpikir secara mendalam. Dan bangsa yang kehilangan kemampuan berpikir akan mudah dipimpin oleh emosi, hoaks, serta sensasi sesaat.
Itulah alasan mengapa setiap kali melihat harga buku yang semakin mahal, saya tidak hanya memikirkan isi dompet. Saya juga memikirkan sesuatu yang lebih besar. Apakah kita masih menganggap pengetahuan sebagai investasi, atau sudah menganggapnya sebagai kemewahan. Jawaban atas pertanyaan itu barangkali akan menentukan seperti apa kualitas bangsa ini beberapa dekade mendatang.
Ditulis oleh Wurianto Saksomo, Sekretaris Kecamatan Bringin.
